DIES NATALIS: MAKNA DAN TRADISI (Dede Mariana)

Peringatan hari lahir (dies natalis) dalam sejumlah besar budaya dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan. Karena itu, biasanya peringatan tersebut dirayakan dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Bertambahnya usia selalu dibarengi dengan pengharapan akan makin bertambahnya kedewasaan. Tidak hanya bagi manusia, pertambahan usia bagi organisasi pun selalu dikaitkan dengan tingkat kedewasaan. Apalagi bagi sebuah perguruan tinggi yang punya fungsi utama melahirkan para ilmuwan yang berkualitas.

Bagi Universitas Padjadjaran, dies natalis punya makna penting bukan hanya sebagai penanda bertambahnya usia, tapi juga penanda tingkat kedewasaan dalam berkarya. Keberadaan Unpad yang sekarang berusia lebih dari setengah abad menjadi bukti Unpad masih memiliki daya tarik di tengah persaingan yang makin ketat di antara perguruan-perguruan tinggi negeri maupun swasta. Tapi, Unpad juga menghadapi tantangan berat karena di era keterbukaan informasi seperti sekarang, banyak perguruan tinggi lain yang mampu mengejar ketertinggalan dari sisi usia dengan memanfaatkan strategi pemasaran yang canggih untuk membangun pencitraan dan reputasi dirinya.

Persaingan dalam penyediaan jasa pendidikan tinggi mengharuskan Unpad untuk melakukan berbagai perubahan internal agar tetap eksis. Apalagi, berbagai standar internasional telah ditetapkan sebagai aturan main untuk memperketat persaingan di kalangan penyedia jasa pendidikan tinggi. Konsep-konsep seperti world class university, research university, dan sejenisnya menjadi alat seleksi untuk menentukan eksistensi perguruan tinggi di tingkat global. Untuk bisa meraih peringkat penting dalam ajang kompetisi tersebut, Unpad harus bisa berinovasi, mengubah aturan main yang membelenggu kreativitas civitas academica, bahkan merombak total budaya organisasi yang menghambat proses adaptasi tersebut.

Dies natalis seharusnya menjadi momentum untuk menguatkan komitmen akan perubahan demi kemajuan. Perlu ada penegasan tentang upaya-upaya yang harus dilakukan sebagai bagian dari resolusi ulang tahun. Tidak ada salahnya merayakan dies natalis dengan kegiatan-kegiatan hiburan bila ini bagian dari upaya membangun budaya organisasi baru, menghilangkan sekat-sekat antargenerasi, membangun sportivitas, dan seterusnya. Apalagi bila kegiatan itu berkontribusi positif untuk revitalisasi budaya Sunda sebagai ciri khas Unpad. Demikian pula, tidak ada larangan untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serius berkarakter ilmiah untuk mempromosikan hasil karya para civitas academica Unpad yang membanggakan. Semua kegiatan itu adalah bagian dari ucapan syukur atas pencapaian yang telah diraih.

Tapi, apakah semua rangkaian kegiatan dies itu mampu membangkitkan kebanggaan sebagai warga Unpad? Semangat sebagai suatu kolektivitas inilah yang seharusnya menjadi inti dari peringatan dies natalis sebagai sebuah momentum untuk mengaktualisasikan semangat awal berdirinya Unpad. Bahwa Unpad dibentuk bukan cuma untuk menjadi universitas berkelas dunia, tapi terutama untuk mencerdaskan anak bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme ala Unpad inilah yang harusnya ditradisikan dalam dies natalis.

Karena itu, tema dies Unpad 2009 “Unpad untuk semua (Unpad for all)”, harus menjadi spirit dan salah satu values baru bagi civitas academica di dalam melakukan pengabdiannya. Bahkan, akan lebih tepat dan lengkap bila tema tersebut diperluas menjadi “Unpad untuk semua, untuk bangsa dan kemanusiaan” sebagai values dasar mengapa dan untuk apa Unpad ada, hadir ditengah-tengah bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia, bertumbuh kembang dengan landasan nilai-nilai kesundaan,  keindonesiaan, dan kemanusiaan (nilai-nilai universal). Selamat ber-Dies Natalis Unpad ke 52.

Related posts:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.