Banyak Jalan Menuju Unpad

Jemari Nisa lincah memencet-mencet papan ketik komputer. Matanya menatap layar sambil sesekali melirik selembar kertas berisi deretan nomor di sampingnya. Tampak aura ketegangan meliputi gadis berusia 18 tahun itu. Sementara itu ibundanya, Atih, perempuan setengah baya yang duduk di samping Nisa, ikut memandang layar dengan tegang. Selang semenit kemudian, wajah keduanya berubah kusut.

“Yah, gagal,” ujar Nisa pelan diiringi tepukan pelan sang ibu di pundaknya.

Pagi itu Nisa dan ibundanya tengah membuka laman situs Unpad untuk melihat pengumuman hasil SMUP. Dengan mengetik PIN di kotak yang disediakan, para peserta ujian dapat mengetahui apakah dirinya diterima Unpad melalui jalur mandiri ini atau tidak. Malang bagi Nisa, ia tidak berhasil masuk program S1 Hubungan Internasional yang telah lama diidamkannya.

SMUP hanyalah salah satu jalur masuk ke Unpad. Jalur masuk mandiri ini sudah dibuka sejak 2006, dan tahun ini ujiannya dilaksanakan di dua belas kota. Saat ini universitas yang telah berusia lebih dari setengah abad itu membuka empat jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Tiga jalur masuk lainnya,  Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), talent scouting, dan penerimaan secara khusus melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar).

SNMPTN menjadi jalur utama dalam menerima mahasiswa baru program S1. Setiap tahun Unpad menerima 3.700 mahasiswa dari seluruh Indonesia melalui jalur ini. Rektor Unpad, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, menegaskan, jumlah kursi melalui jalur utama ini tidak pernah berubah sejak dahulu. Ini berbeda halnya dengan sejumlah PTN lain yang justru mengurangi kuota mahasiswa SNMPTN setelah mereka membuka jalur mandiri.

“Dari dulu jumlah penerimaan mahasiswa Unpad melalui SNMPTN selalu seratus persen (jumlah kuotanya tetap—red.). SMUP dan jalur khusus lainnya itu merupakan penambahan dari kapasitas daya tampung yang ada,” jelas Ganjar. Penghitungan daya tampung berdasarkan kepada rasio ideal antara jumlah dosen dengan jumlah mahasiswa, jumlah ruangan dengan mahasiswa, dan jumlah laboratorium dengan mahasiswa.

Mahasiswa yang diterima lewat jalur SMUP harus membayar dana pengembangan pendidikan (DPP) belasan hingga ratusan juta rupiah. Mereka yang diterima melalui jalur SNMPTN harus membayar minimal Rp 6 juta saat registrasi, sedangkan mahasiswa yang diterima lewat program talent scouting dan jalur kerja sama dengan Pemprov Jabar gratis. Artinya, seluruh biaya kuliah mereka sejak masuk hingga lulus ditanggung sepenuhnya oleh pihak lain. 

Talent scouting diarahkan untuk calon mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, tapi secara akademis bagus. Ini kita bantu setiap tahun dengan menerima 55 orang wakil dari berbagai daerah di Jabar,” ungkap Ganjar.

Mereka yang masuk lewat program kerjasama, pihak Pemprov Jabar-lah yang menyediakan beasiswa kepada 30 mahasiswa FK, sepuluh mahasiswa FKG, sepuluh mahasiswa Fakultas Farmasi, dan 50 dokter yang mengikuti program pendidikan spesialis. Selain itu, ada pula beasiswa bagi 300 mahasiswa di Fakultas-fakultas  Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Teknologi Pertanian.

Meski demikian, menurut Kepala Biro (Karo) Administrasi Akademik Unpad, Isis Ikhwansyah, kerja sama dengan pihak pemerintah saat ini baru setaraf kerja sama dengan Pemda Kabupaten Indramayu. Pemda Indramayu tahun ini bersedia memberikan bantuan biaya pendidikan sekaligus biaya hidup bagi 22 mahasiswa Unpad. Namun, setelah dilakukan penyaringan, hanya 15 orang yang memenuhi standar kualifikasi.

 Ujian saringan

Ganjar menegaskan, jalur apapun yang terbuka untuk calon mahasiswa pada prinsipnya selalu ada ujian (seleksi). Ini berlaku pula bagi siswa-siswa berprestasi dalam bidang apapun dan dengan kejuaraan di tingkat manapun.

“Mereka yang berprestasi dalam bidang seni dan olahraga, misalnya, kita perhatikan kriteria prestasinya, tapi baru akan diterima setelah melalui testing,” ungkapnya. Saat ini, Unpad tengah berupaya menjaring juara olimpiade ilmu pengetahuan. Selama ini belum ada mahasiswa juara olimpiade yang menyatakan ingin bergabung dengan Unpad.

Testing atau ujian saringan masuk sendiri, menurut Isis, menunjukkan bahwa Unpad tidak semata-semata mengedepankan kuantitas tetapi juga kualitas para calon mahasiswa. Dalam ujian saringan masuk ada satu format penilaian yang digunakan untuk standar PMB. Standar ini menentukan apakah seorang calon mahasiswa mampu belajar di perguruan tinggi atau tidak.

“Ketika hasil ujian keluar, ternyata tidak semua target kursi yang disediakan terpenuhi. Unpad hanya memakai calon mahasiswa yang berkualitas,” tambah laki-laki yang baru setahun menjabat Karo Administrasi Akademik Unpad ini.

Itulah pentingnya diadakan ujian saringan masuk atau dalam hal ini Unpad menggunakan Tes Akademik dan Tes Kemampuan Belajar (TKB).

Berdasarkan informasi dari pihak Fakultas Psikologi Unpad, TKB mempunyai relevansi dengan proses studi mahasiswa. Namun kebenarannya masih harus ditelusuri lagi. Dalam beberapa waktu mendatang  dilakukan penelitian lebih lanjut oleh tim khusus yang akan mengkaji apakah ada korelasi antara Tes Akademik dengan masa studi, antara TKB dengan masa studi, dan korelasi antara Tes Akademik ditambah TKB dengan masa studi. Tim ini baru dibentuk dan akan meneliti mahasiswa mulai angkatan 2006.

“Sedang diteliti juga, apakah ada korelasi antara masa studi dengan rekruitmen asal SMUP dan SNMPTN,” ungkap Isis.

 

Kelebihan muatan

Seleksi masuk tadi dimaksudkan agar jumlah mahasiswa tidak melebihi rasio ideal antara dosen dengan mahasiswa dan antara fasilitas pendidikan dengan mahasiswa. Akan tetapi, menurut sumber Warta LPPM, hasil audit internal Unpad menyatakan, Fikom dan FISIP telah kelebihan muatan (over loaded).  Hasil audit ini telah dikirimkan kepada PR I dan PR II. Tindak lanjut dari hasil audit internal Unpad itu sendiri belum diketahui. PR I sendiri sulit ditemui.

“Fikom dan FISIP daya tampungnya di atas seharusnya, jadi overloaded. Penyelesaiannya adalah menurunkan daya tampung. ‘Nggak ada pembangunan gedung baru. Fikom sudah punya empat gedung, ya, sudah cukup. FISIP masih bisa membangun satu gedung,” tegas Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Unpad, Prof. Dr. Rina Indiastuti.

Dosen senior FE Unpad ini menjelaskan, tiap fakultas telah diberikan lahan  untuk membangun kampus. Jika lahan tersebut sudah terpakai untuk gedung, maka tidak ada penambahan lahan lagi. Empat puluh persen tanah kosong di Jatinangor akan dijadikan open space (ruang terbuka), sementara sisanya menjadi tempat pembangunan gedung rektorat, FE dan FH yang dimulai tahun depan.

Kepada Warta LPPM baru-baru ini,  Dekan Fikom Unpad, Prof. Dr. Deddy Mulyana, mengungkapkan, tahun ini jumlah mahasiswa yang diterima di Fikom diturunkan. Fikom mengusahakan agar rasio dosen-mahasiswa maksimal 1:30.

 “Kami merasa jumlah mahasiswa terlalu banyak. Rasionya itu terlalu jomplang dibandingkan dengan fakultas-fakultas lain. Peminat (Fikom—red.) memang banyak, tapi jangan sampai ini membuat kita lengah. Kita harus tetap menjaga kualitas lulusan,” ungkapnya.

Deddy juga menegaskan, mulai tahun depan kampus Fikom Bandung ditutup. Sebenarnya tahun ini juga Fikom kampus Bandung sudah ditutup, namun sudah terlanjur diumumkan di internet tentang penerimaan mahasiswa baru (S1) Fikom kampus Bandung lewat jalur SMUP. Seperti kita ketahui, semua mahasiswa Fikom yang diterima lewat jalur SNMPTN (dulu UMPTN) kuliah di Jatinangor, demikian pula mahasiswa Program D3.

“Sebenarnya kata yang lebih tepat adalah facing out. Kampus Bandung nanti  digabung ke Jatinangor. Supaya prosesnya mudah, jadi tahun depan kampus Bandung tidak lagi menerima mahasiswa baru. Kita juga akan menutup program D3 Jatinangor,” jelasnya.

Program D3 direncanakan menjadi sebuah sekolah tinggi kejuruan di bidang komunikasi terapan. Namun hal ini masih akan dibahas lagi, apakah program ini masih di bawah Unpad atau di luar Unpad.

“Kita ingin merujuk ke universitas kelas dunia. Untuk menjadi universitas kelas dunia, D3 sebaiknya jangan ada, karena program itu  membebani kita,” tegas Deddy.

Namun Ganjar Kurnia berkilah ketika disinggung mengenai rencana penutupan program D3.

“Kata siapa itu? Saya baru dengar,” ujar Rektor Unpad.

Yang akan ditutup secara bertahap, katanya, adalah program S1 kredit 110 semester atau yang selama ini akrab dengan sebutan program Ekstensi.

Penutupan kelas sore ini dilakukan karena D3 seharusnya menjadi terminal, pemberhentian akhir. Jika sudah selesai D3, maka pendidikannya berakhir. Hasil penelitian pun membuktikan, masa studi mahasiswa yang mengambil program Ekstensi menjadi lebih lama. Saat ini (mulai tahun ini) baru FE yang telah menutup program Ekstensi.

 

Banyak peminat

Di sisi lain, meski tidak termasuk universitas top di Indonesia seperti Universitas Indonesia ataupun Institut Teknologi Bandung, Unpad selalu dibanjiri peminat. Biaya masuk yang terhitung besar pun tidak menghalangi niat para orang tua agar anaknya dapat berkuliah di Unpad.

“Unpad ini favorit orang Bandung. Selain itu, dengan kuliah di Unpad maka akan lebih mudah diterima bekerja di perusahaan-perusahaan di Bandung, karena sebagian besar perusahaan di kota ini memandang Unpad sebagai universitas unggulan. SMUP mahal, tapi apapun yang terbaik untuk anak akan diusahakan,” jelas Atih, salah satu orang tua peserta SMUP. Nisa, anak perempuan Atih, pun memiliki pandangan yang tak jauh berbeda dengan ibunya.

“Dari yang saya lihat, Unpad berhasil membawa mahasiswa-mahasiswanya yang belajar di sana menjadi sukses. Suasana Unpad juga sangat mendukung untuk kuliah. Terasa banget suasana kampusnya,” jelas Nisa dengan bersemangat.

Kesan Nisa tampaknya tidak sesuai dengan apa yang dialami sebagian mahasiswa Unpad. Setelah menjalani perkuliahan hingga tahun ketiga, Fia justru merasa kecewa.

“’Nggak sebanding antara biaya SMUP dengan fasilitas. Fikom Unpad, katanya Fikom satu-satunya di PTN yang ada di Indonesia. Tetapi untuk lihat nilai ‘aja ‘nggak bisa online. Mesti secara tradisional lihat ke kampus. Penyampaian informasi dari kampus suka ‘nggak nyampe. Misalnya, info KKN (Kuliah Kerja Nyata – Red). Fasilitas masih kurang. Di kampus Fikom Jatinangor cuma dua kelas yang pake AC, padahal di Fakultas Hukum Bandung sudah semua kelas pake AC. Kampus Fikom kumuh dan gersang,” jelas Fia yang masuk Fikom melalui jalur SMUP.

Kritik bukan hanya tertuju pada ketersediaan fasilitas kampus, namun juga pada ketakbersihan dan ketakrapihan kampus.

“Fasilitas angkotnya oke, tapi WC kampus kacau, ‘nggak sebanding sama WC dosen. Mushola dan tempat wudhu Fakultas Sastra jorok. Lab bahasa banyak yang rusak alat-alatnya,” ujar Dea, mahasiswi semester empat Jurusan Sastra Inggris yang juga masuk melalui jalur SMUP.

Dari pandangan Nisa dan ibunya, Unpad berhasil membentuk reputasi yang baik sehingga menjadi kampus idaman. Lain halnya bagi Fia dan Dea, dua mahasiswi yang telah berhasil masuk melalui jalur SMUP, Unpad memberikan fasilitas pendidikan yang kurang mendukung.

Seperti bunyi pepatah, banyak jalan menuju Roma. Dalam hal ini, banyak pula jalan menuju Unpad. Ada empat jalur masuk yang disediakan. Semua jalur memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing.

Para calon mahasiswa boleh pakai jalan yang mana saja, asal sampai dengan selamat di tujuan. Lalu, apakah Unpad telah menjadi tujuan yang terbaik untuk menuntut ilmu? Dengan sistem penerimaan masuk seperti yang dijalankan sekarang, apakah Unpad mampu menjadi universitas kelas dunia? Jawabnya ada pada diri para dosen, pegawai, dan para mahasiswa Unpad sendiri.***Vanya Chairunissa (vanya.chairunisa@yahoo.com)   dan Yuliasri Perdani (yuliasri_p@yahoo.com)

Related posts:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.